Melanjutkan Tulisan Self Publishing, Why Not?
By Afifah Afra

Tentu, seperti yang sedikit diulas di tulisan sebelumnya, ada beberapa alasan kenapa seseorang, khususnya para penulis, mencoba bikin self publishing. Saya coba tuliskan disini yaa?
  1. Tidak puas dengan sistem yang berlaku di penerbit yang selama ini menerbitkan karya-karyanya.  Tahu sendirilah, di Indonesia, nasib penulis memang tak terlampau menyenangkan. Memang ada Kang Abik atau Mas Andrea Hirata yang konon royaltinya sampai milyaran. Tetapi banyak kok, penulis yang meskipun bukunya sudah banyak tetapi masih ngontrak di rumah tipe RSSSS... (rumah sangat sederhana sangat sumpek setiap sabtu semakin sumpek sebab saudara-saudara singgah... haha). Banyak penerbit yang tidak terlalu rapi dalam memenej hubungan dengan penulis. Pelaporan royalti yang tak jelas, tidak transparan sampai performance buku yang mengecewakan. Karena pengin merubah sistem perbukuan yang karut-marut, maka para penulis pun bersemangat membuat penerbit sendiri. Tetapi, ketika seorang penulis kemudian menjadi penerbit, nggak semudah membalikkan telapak tangan lho, buat memperbaiki keadaan. Saya sendiri juga menyadari, emang nggak gampang bikin penerbitan sendiri.
  2. Tidak adanya kesamaan selera antara penulis dengan penerbit. Hal ini sering banget terjadi lho. Maka, banyak kasus terjadi, ada naskah yang ditolak di sana-sini, ternyata ketika diterbitkan di sebuah penerbit malah meledak. Entah, saya sendiri juga sering heran dengan 'kacamata' yang dikenakan sebuah penerbit dalam meramal apakah karya tersebut akan laku di pasar atau tidak. So, karena seorang penulis merasa frustasi karena ditolak penerbit (pada penulis yang jam terbangnya sudah tinggi sih biasanya karena faktor pasar), mending kalau ada rezeki diterbitkan sendiri aja. Setelah terbit, bisa saja karya itu meledak--berarti penulis yang pintar memprediksi, atau justru numpuk di gudang--yang berarti penerbit yang memang pintar membaca pasar.
  3. Idealisme Penulis. Terkait dengan alasan kedua, memang nggak selalu penulis itu menulis demi uang. Maka, ia rela menerbitkan karya-karyanya semata buat idealisme. Tak sekadar dijual murah, justru dibagi gratis. Memang ada sih, penerbit yang juga nggak semata cari uang. Tetapi tanpa uang, penerbit nggak bisa menggaji karyawan, membeli kertas dan bahan2 produksi lainnya, merawat mesin dsb. Jadi, penerbit biasanya lebih realistis dalam masalah keuangan dibanding dengan penulis.
  4. Menjajal Bisnis Penerbitan. Orang yang paling bisa menjual sebuah buku, sebenarnya adalah penulisnya itu sendiri. Pembaca tentu akan lebih senang mendapat buku yang sudah diberi pesan spesial plus tanda-tangan (apalagi jika disertai diskon khusus) dari penulis.
  5. Kepuasan pribadi. Asyik banget rasanya jika 100% eksekusi kaver, layout, dan segala performance buku ditentukan oleh kita sendiri bukan?
Nah, itu berapa alasan mengapa seorang penulis beralih profesi jadi penerbit. Mungkin masih banyak alasan-alasan lain. Tetapi, tidakkah kelima hal tersebut sudah cukup menggoda Anda (jika anda seorang penulis) untuk membikin penerbit sendiri? Yang jelas, tantangannya pasti lebih besar. Karena kuadrannya pun sudah berbeda, resikonya pun akan berbeda, semakin besar. Wallahu a'lam.
Author image
About the Author :

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Integer nec odio. Praesent libero. Sed cursus ante dapibus diam. Sed nisi. Nulla quis sem at nibh elementum imperdiet. Duis sagittis ipsum.

Connect with him on :

1 komentar:

menurut saya , kepuasan sendiri yang jadi kunci.. kan kita jadi bangga kalau itu hasil sendiri juga

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.